Humanity Protocol Kehilangan Dana Kripto Senilai US$36 Juta akibat Private Key Terkompromi, Harga Token Anjlok 73%

Berita Crypto , Tuesday, 09 June 2026
Posted by Rima Dwi Astuti

Token asli Humanity Protocol (H) anjlok lebih dari 80% pada Selasa setelah peretas berhasil mengompromikan private key yang terkait dengan proyek tersebut, mengambil alih kendali admin bridge, dan mencuri aset kripto senilai lebih dari US$36 juta di jaringan Ethereum dan BNB Chain.

Dalam unggahan terbarunya, Humanity Protocol mengungkapkan bahwa serangan yang terjadi pada Senin itu dilakukan secara terkoordinasi di Ethereum dan BNB Smart Chain (BSC). Investigasi awal menunjukkan insiden bermula setelah laptop salah satu karyawan berhasil diretas.

Peretasan ini menambah daftar panjang insiden keamanan di sektor DeFi. Berdasarkan data DeFiLlama, lebih dari US$885 juta aset kripto telah hilang akibat peretasan protokol DeFi selama enam bulan pertama tahun 2026.

Menurut Humanity Protocol, pelaku berhasil menguasai tiga dari enam private key Gnosis Safe di Ethereum dan tiga dari lima private key di BSC. Akses tersebut memungkinkan mereka mengambil alih kendali ProxyAdmin, menguras sekitar 141,2 juta token H, serta mencetak tambahan 200 juta token H melalui pembaruan kontrak pintar yang berbahaya.

Data CoinGecko menunjukkan harga token H merosot dari US$0,73 pada Senin menjadi hanya US$0,079 pada Selasa pagi, atau turun sekitar 89%. Saat ini token tersebut diperdagangkan di kisaran US$0,20, masih melemah sekitar 73% dalam 24 jam terakhir setelah sebelumnya mendekati rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) di level US$0,80.

Pendiri Humanity Protocol, Terence Kwok, telah mengonfirmasi insiden tersebut dan memperingatkan pengguna untuk sementara waktu menghindari penggunaan infrastruktur proyek.

Humanity Protocol merupakan blockchain Layer-2 berbasis teknologi zero-knowledge yang berfokus pada identitas digital terdesentralisasi. Proyek ini mengembangkan sistem “Proof of Humanity” yang memverifikasi identitas pengguna melalui pemindaian telapak tangan, bukan iris mata atau pengenalan wajah

Tim Humanity Protocol menyatakan telah menghentikan sementara layanan deposit dan penarikan pada bridge yang terdampak. Mereka juga bekerja sama dengan bursa kripto serta aparat penegak hukum untuk melacak dan memulihkan dana yang dicuri.

“Kami memahami bahwa komunitas telah bekerja keras untuk membangun nilai yang mereka miliki di sini, dan kami merasakan beban dari kejadian ini,” tulis tim Humanity Protocol sambil menjanjikan laporan investigasi lengkap pascainsiden.

Meir Dolev, Co-Founder dan CTO platform keamanan blockchain Cyvers, mengatakan kepada Decrypt bahwa insiden ini bukan disebabkan oleh celah smart contract, melainkan kegagalan keamanan operasional akibat kompromi private key yang terkait dengan anggota Humanity Foundation.

Menurut Dolev, setelah memperoleh akses admin, pelaku memanfaatkan fungsi mint untuk mencetak 100 juta token H baru senilai sekitar US$12,9 juta. Token hasil curian dan hasil cetakan tersebut kemudian ditukar menjadi ETH dan BNB sebelum dipindahkan ke sejumlah dompet berbeda.

Ia menambahkan bahwa pencurian dana senilai sekitar US$30 juta hanya mungkin dilakukan karena pelaku memiliki akses tingkat pemilik atau administrator yang memungkinkan mereka meningkatkan suplai token melalui pembaruan kontrak proxy sekaligus menguras dompet yang dikelola protokol.

“Masalah utamanya bersifat struktural, yaitu satu private key dipercaya untuk mengendalikan dana sekaligus memiliki kewenangan mengubah aturan sistem,” ujarnya.

Dolev juga menilai peringatan Kwok agar pengguna menjauhi bridge dan pool likuiditas menunjukkan bahwa dampak insiden tersebut kemungkinan belum sepenuhnya berhasil dikendalikan.

Meski pelaku masih menguasai sejumlah besar token H, mereka belum dapat menjual seluruh aset tersebut karena likuiditas pasar yang terbatas. Menurut Dolev, peringatan publik yang dikeluarkan tim proyek juga bertujuan mencegah likuiditas semakin terkuras.

Di sisi lain, Humanity Protocol dijadwalkan membuka (unlock) sekitar 266,5 juta token H atau setara 9,4% dari suplai yang telah beredar pada 25 Juni mendatang. Berdasarkan data Tokenomist, jumlah tersebut bernilai sekitar US$33 juta sebelum harga token mengalami kejatuhan.

Penyelidik blockchain ZachXBT sempat menandai insiden ini sebagai “kemungkinan rekayasa” karena dianggap dapat menjadi jalan keluar yang menguntungkan bagi market maker yang aktif. Namun setelah melakukan analisis lebih lanjut, ia menarik kembali pernyataan tersebut.

“Setelah analisis lebih lanjut terhadap alur pencucian dana, tampaknya aktivitas market maker yang mencurigakan, transaksi OTC, dan kompromi private key merupakan kejadian yang berdiri sendiri dan tidak saling terkait,” tulis ZachXBT.

Meski demikian, Dolev menegaskan bahwa bukti on-chain yang tersedia saat ini masih belum cukup untuk menarik kesimpulan pasti. Menurutnya, pergerakan dana hasil curian dalam beberapa hari ke depan serta riwayat penggunaan private key yang diretas akan menjadi faktor penting dalam mengungkap penyebab sebenarnya dari insiden tersebut.

Supported by
DepoCrypto.com © 2023