STRC Turun di Bawah Nilai Nominal, Ketahanan Strategi Pendanaan Bitcoin Milik Strategy Diuji Pasar
Saham STRC Milik Strategy Anjlok, Uji Ketahanan Skema Pendanaan Berbasis Bitcoin dan DeFi
Saham preferen milik Strategy (Nasdaq: MSTR) bernama STRC (Stretch) tengah menjadi sorotan setelah harganya turun hampir 20% di bawah nilai nominal (par value). Kondisi ini memicu kekhawatiran di dua sisi sekaligus, yakni investor pasar tradisional (TradFi) dan ekosistem DeFi yang menggunakan aset tersebut sebagai jaminan stablecoin.
Peristiwa ini menjadi ujian besar bagi model keuangan baru yang menggabungkan instrumen pasar tradisional dengan mekanisme berbasis kripto.
Apa Itu STRC?
STRC adalah saham preferen perpetual yang diluncurkan Strategy pada Juli 2025 dengan nilai nominal $100 per saham. Produk ini memiliki fitur dividen variabel yang dapat disesuaikan perusahaan setiap bulan dengan tujuan menjaga harga pasar tetap mendekati $100.
Per Juni 2026, tingkat dividen tahunan STRC berada di 11,5%, naik dari 9% saat pertama kali dirilis setelah mengalami tujuh kali kenaikan berturut-turut.
Meski sering dikaitkan dengan Bitcoin, STRC tidak dijamin langsung oleh cadangan Bitcoin milik Strategy. Produk ini lebih tepat dianggap sebagai instrumen kredit, bukan representasi langsung dari kepemilikan Bitcoin.
Jika harga STRC berada di sekitar atau di atas $100, Strategy dapat menerbitkan saham baru untuk mengumpulkan dana dan membeli lebih banyak Bitcoin. Sebaliknya, ketika harga turun di bawah nilai nominal, kemampuan perusahaan untuk menggalang dana ikut terganggu.
Penyebab Harga STRC Turun
Minggu lalu, STRC sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah di $82,53, sebelum pulih ke kisaran $88 hingga $91.
Tekanan datang dari beberapa faktor. Harga Bitcoin turun dari level di atas $80.000 pada pertengahan Mei menjadi di bawah $60.000 pada 5 Juni, memicu tekanan besar pada sentimen pasar.
Selain itu, perusahaan pesaing Strive meluncurkan produk serupa bernama SATA dengan imbal hasil lebih tinggi, yakni 13%, yang membuat investor mulai beralih.
Strategy juga diketahui mengurangi cadangan kas setelah membeli kembali obligasi konversi jatuh tempo 2029 senilai $1,5 miliar dengan diskon 8%.
Tekanan semakin besar setelah Federal Reserve memberi sinyal kebijakan suku bunga lebih ketat pada 17 Juni, yang ikut menekan aset berisiko seperti Bitcoin.
Dampaknya ke Stablecoin DeFi
Masalah tidak berhenti di pasar saham. Beberapa protokol DeFi diketahui menggunakan STRC sebagai aset jaminan stablecoin karena mampu menghasilkan arus kas riil dari dividen.
Contoh terbesar adalah Apyx Finance, penerbit stablecoin apxUSD, yang sebagian besar cadangannya berasal dari saham STRC.
Per Maret 2026, Apyx memegang sekitar 288.888 saham STRC senilai kurang lebih $29 juta, sementara suplai stablecoin apxUSD sempat tumbuh hingga $500 juta.
Ketika pasar kripto mengalami tekanan dan Bitcoin jatuh tajam, harga apxUSD ikut kehilangan patokan harga dan sempat turun hingga $0,93, bahkan beberapa laporan menyebut sempat menyentuh $0,90.
Hal ini terjadi karena ketika harga STRC turun, nilai aset cadangan stablecoin ikut menurun.
Pihak Apyx menjelaskan bahwa kondisi tersebut memang bagian dari desain produk, karena stablecoin mereka tidak didukung uang tunai melainkan saham preferen yang memiliki volatilitas harga.
Model Keuangan Lama dengan Bungkus Kripto
Meski terlihat inovatif, struktur STRC sebenarnya memiliki konsep yang mirip dengan produk keuangan tradisional yang sudah digunakan selama puluhan tahun.
Skemanya menyerupai saham preferen dengan dividen fleksibel, obligasi perpetual dengan sistem penyesuaian kupon, hingga mekanisme repo di pasar tradisional di mana aset berbunga dijadikan jaminan pinjaman.
Risikonya pun serupa: ketika nilai aset jaminan turun drastis, stabilitas produk ikut terganggu.
Risiko Strategy Bergantung pada Bitcoin
Analis menilai risiko terbesar tetap berasal dari ketergantungan Strategy terhadap harga Bitcoin.
Data Bitcoin Treasuries menunjukkan bahwa hingga 22 Juni 2026, Strategy memegang 847.363 BTC dengan total biaya akumulasi sekitar $64,1 miliar dan harga beli rata-rata $75.646 per BTC.
Dengan harga Bitcoin saat ini masih berada di kisaran $60.000-an, perusahaan sedang menanggung kerugian belum terealisasi sekitar $9,3 miliar.
Jika Bitcoin terus melemah dalam jangka panjang, Strategy kemungkinan harus menerbitkan saham baru dengan kondisi yang kurang menguntungkan, menjual sebagian cadangan Bitcoin, atau memangkas pembayaran dividen.
Bagi protokol stablecoin dan proyek DeFi yang bergantung pada STRC, skenario tersebut menjadi risiko besar yang belum benar-benar teruji oleh pasar.