Tekanan Blokade AS Kian Berat, Iran Andalkan Kripto Saat Pendapatan Minyak Menyusut

Berita Crypto , Friday, 12 June 2026
Posted by Rima Dwi Astuti

Tekanan Blokade AS Meningkat, Iran Andalkan Crypto Saat Pendapatan Minyak Menyusut

Ekspor minyak mentah Iran anjlok drastis dari sekitar 2 juta barel per hari menjadi di bawah 300.000 barel per hari pada Mei 2026. Sejumlah analisis bahkan menyebut ekspor minyak Iran sempat mendekati nol pada periode tersebut.

Penyebab utama kondisi ini adalah blokade laut Amerika Serikat yang dimulai pada April 2026. Dampaknya cukup besar, dengan estimasi kerugian pendapatan Iran mencapai US$4,8 miliar hingga hampir US$6 miliar, atau sekitar US$400 juta per hari.

Bagaimana Blokade Ini Bekerja dan Kaitannya dengan Crypto

Blokade tersebut merupakan bagian dari kebijakan tekanan ekonomi AS yang disebut “Economic Fury”. Selain memblokir jalur pengiriman minyak, pemerintah AS juga menjatuhkan sanksi baru terhadap jaringan pengiriman dan pihak asing yang selama ini membantu Iran menjual minyak ke pasar internasional.

Beberapa fasilitator berbasis di Hong Kong yang membantu penjualan minyak Iran ke China menjadi target utama. Pada akhir Mei hingga awal Juni, sanksi AS juga mulai menyasar exchange aset digital Iran yang diduga memiliki keterkaitan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Departemen Keuangan AS dilaporkan telah membekukan hampir US$500 juta aset crypto yang terhubung dengan pemerintah Iran sebagai bagian dari tekanan ekonomi tersebut.

Iran Mulai Beralih ke Crypto Karena Kebutuhan

Di tengah tekanan ekonomi, Iran dilaporkan mulai meminta pembayaran menggunakan cryptocurrency, termasuk Bitcoin, untuk biaya transit kapal melalui Selat Hormuz. Beberapa laporan menyebut biaya yang dikenakan sekitar US$1 per barel.

Langkah ini menunjukkan bahwa Iran mulai memanfaatkan crypto sebagai alternatif transaksi internasional di tengah keterbatasan akses terhadap sistem keuangan global.

Namun, langkah tersebut tidak sepenuhnya aman. Keberhasilan AS membekukan hampir US$500 juta aset digital menunjukkan bahwa otoritas Amerika sudah memiliki kemampuan untuk melacak transaksi blockchain dan memantau pergerakan dana di jaringan terdesentralisasi.

Dampaknya Bagi Investor Crypto

Bagi investor, situasi ini dapat memicu pengetatan regulasi crypto secara global. Setiap kali negara yang terkena sanksi menggunakan crypto untuk aktivitas ekonomi, regulator cenderung mendorong aturan yang lebih ketat terhadap industri aset digital.

Hal ini bisa berarti persyaratan KYC yang lebih ketat di exchange crypto, pengawasan transaksi blockchain yang lebih luas, hingga regulasi tambahan terhadap platform decentralized finance (DeFi).

Selain itu, pasar energi global juga perlu diperhatikan. Hilangnya hampir 2 juta barel minyak Iran per hari dari pasar internasional berpotensi memicu gangguan pasokan. Jika negara produsen lain seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab tidak segera menutup kekurangan tersebut, harga minyak global berpotensi mengalami kenaikan.

Supported by
DepoCrypto.com © 2023