Bitcoin Masuki Paruh Kedua Tahun dalam Tren Bearish saat ETF, The Fed, dan Strategy Uji Level Support US$100.000

Bitcoin , Thursday, 02 July 2026
Posted by Rima Dwi Astuti

Bitcoin Hadapi Ujian Berat di Paruh Kedua Tahun, Tertekan Arus Keluar ETF, Kebijakan The Fed, dan Regulasi

Bitcoin memasuki paruh kedua tahun 2026 dengan tekanan yang semakin besar setelah kehilangan momentum yang sebelumnya mendorong reli harganya.

Berdasarkan data CryptoSlate, Bitcoin telah turun sekitar 33% sejak awal tahun dan anjlok lebih dari 50% dari rekor tertingginya di atas US$126.000 pada Oktober lalu. Saat artikel ini ditulis, aset kripto terbesar di dunia tersebut diperdagangkan di kisaran US$58.600, level terendah sejak September 2024.

Penurunan ini membuat Bitcoin menembus sejumlah level support jangka panjang, sekaligus mencatatkan awal tahun terburuk sejak krisis pasar kripto pada 2022.

Juli Jadi Penentu Arah Bitcoin

Pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu arus dana pada ETF spot Bitcoin, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), serta perkembangan pembahasan RUU CLARITY Act di Kongres Amerika Serikat.

Jika ketiga faktor tersebut membaik, Bitcoin berpeluang pulih menuju US$100.000 sebelum akhir tahun. Namun, apabila tekanan jual berlanjut, analis memperkirakan harga dapat kembali menguji area support berikutnya di kisaran US$50.000 hingga US$55.000.

Arus Keluar ETF Terus Menekan Bitcoin

Salah satu faktor utama yang membebani harga Bitcoin adalah terus berlanjutnya arus keluar dana dari ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat.

Data SoSoValue menunjukkan ETF spot Bitcoin mencatat net outflow sekitar US$4,5 miliar sepanjang Juni. Angka tersebut menjadi arus keluar bulanan terbesar sejak produk ETF spot Bitcoin mulai diperdagangkan pada Januari 2024.

Sebagian besar dana keluar berasal dari ETF IBIT milik BlackRock, yang selama ini menjadi salah satu sumber utama permintaan institusional terhadap Bitcoin.

Sepanjang Juni, ETF spot Bitcoin hanya mencatat arus masuk dana pada tiga hari perdagangan dengan total kurang dari US$100 juta. Di luar itu, sebagian besar hari diwarnai penarikan dana dalam jumlah ratusan juta dolar.

Tekanan tersebut ikut mendorong harga Bitcoin turun di bawah US$60.000 dan mematahkan anggapan bahwa ETF akan menjadi penopang permintaan yang stabil ketika pasar mengalami koreksi.

Firma riset Bitcoin Ecoinometrics menilai pelemahan harga saat ini sejalan dengan tekanan yang terlihat dari arus dana ETF.

Menurut perusahaan tersebut, hampir setiap hari perdagangan selama sebulan terakhir diwarnai keluarnya modal dari ETF spot Bitcoin, sehingga menciptakan salah satu periode arus keluar terpanjang sejak produk tersebut diluncurkan.

Meski demikian, arus keluar ini belum tentu mencerminkan aksi jual panik. Sebagian investor kemungkinan hanya merealisasikan keuntungan setelah reli Bitcoin yang kuat pada tahun lalu.

Saat ini, pergerakan dana ETF menjadi salah satu indikator utama untuk mengukur kepercayaan investor institusional terhadap Bitcoin. Jika arus masuk kembali stabil, hal itu dapat menjadi sinyal pulihnya minat beli. Sebaliknya, jika arus keluar terus berlanjut, Bitcoin akan semakin bergantung pada investor jangka panjang sebagai penopang harga.

Sikap Hawkish The Fed Kurangi Dukungan bagi Bitcoin

Selain tekanan dari ETF, Bitcoin juga menghadapi kondisi makroekonomi yang kurang mendukung.

Dalam pertemuan Juni, The Fed mempertahankan suku bunga acuannya, tetapi memberikan sinyal kebijakan yang lebih hawkish di bawah kepemimpinan Ketua Kevin Warsh.

Inflasi yang masih berada di atas target serta dampak tarif terhadap harga barang membuat pasar tidak lagi yakin bahwa penurunan suku bunga akan terjadi tahun ini. Bahkan, sebagian pelaku pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga.

Suku bunga yang lebih tinggi biasanya mengurangi daya tarik aset seperti Bitcoin karena investor dapat memperoleh imbal hasil yang lebih menarik dari instrumen seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Perubahan ekspektasi tersebut menghilangkan salah satu sentimen positif yang sebelumnya mendukung pasar kripto.

Strategy Mulai Lebih Fleksibel Mengelola Cadangan Bitcoin

Perhatian pasar juga tertuju pada perubahan strategi perusahaan Strategy, yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy.

Pada Mei lalu, perusahaan menjual 32 BTC senilai sekitar US$2,5 juta. Meski jumlah tersebut hanya sebagian kecil dari total kepemilikan Bitcoin perusahaan, langkah itu menarik perhatian karena Strategy selama ini dikenal sebagai salah satu pembeli Bitcoin korporasi terbesar.

Manajemen kemudian menyatakan bahwa perusahaan dapat menjual sebagian kepemilikan Bitcoin jika diperlukan untuk memperkuat neraca keuangan, mendukung pendanaan, atau melakukan pembelian kembali saham.

Walaupun Strategy masih memiliki cadangan Bitcoin dalam jumlah besar, kebijakan yang lebih fleksibel ini memunculkan pertanyaan apakah perusahaan-perusahaan pemegang Bitcoin lainnya juga akan mengurangi aksi akumulasi ketika kondisi pasar melemah.

Jika semakin banyak perusahaan mengambil langkah serupa, permintaan Bitcoin dari sektor korporasi berpotensi melambat.

AI Kini Jadi Magnet Baru bagi Investor

Di sisi lain, Bitcoin juga harus bersaing dengan sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kini menjadi tujuan utama aliran modal investor.

Selama setahun terakhir, dana investasi terus mengalir ke perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang AI, mulai dari produsen chip, penyedia layanan cloud, perusahaan perangkat lunak, hingga operator pusat data.

Hal ini menunjukkan bahwa investor belum meninggalkan aset berisiko. Namun, sebagian besar modal kini lebih banyak mengalir ke sektor AI yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan pendapatan yang lebih jelas dibandingkan aset kripto.

Akibatnya, Bitcoin belum mampu kembali menjadi pilihan utama investor meskipun harganya telah terkoreksi cukup dalam.

CLARITY Act Berpotensi Menjadi Katalis Positif

Di tengah berbagai tekanan tersebut, regulasi dapat menjadi salah satu katalis positif bagi pasar kripto.

CLARITY Act bertujuan membangun kerangka regulasi yang lebih jelas bagi aset digital di Amerika Serikat dengan menetapkan pembagian kewenangan antara Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC).

Jika disahkan, regulasi ini diharapkan memberikan kepastian hukum yang lebih besar bagi bursa kripto, perbankan, manajer investasi, serta penerbit aset digital.

Namun, waktu yang tersedia cukup terbatas karena Kongres AS akan memasuki masa reses pada Agustus, sementara sejumlah pembahasan politik masih harus diselesaikan.

Apabila RUU tersebut berhasil diloloskan pada Juli, sentimen pasar kripto berpotensi membaik pada paruh kedua tahun ini. Sebaliknya, jika kembali tertunda, ketidakpastian regulasi diperkirakan masih akan membayangi industri aset digital.

Chief Economist Kraken, Thomas Perfumo, menyebut CLARITY Act sebagai salah satu katalis terpenting yang perlu diperhatikan dalam beberapa pekan ke depan. Menurutnya, pengesahan RUU tersebut berpotensi mengembalikan kepercayaan investor sekaligus mendorong pemulihan momentum pasar kripto.

Supported by
DepoCrypto.com © 2023