IRGC Serang Pangkalan Militer AS di Yordania, Bitcoin Bertahan di Kisaran US$63.000

Berita Crypto , Wednesday, 15 July 2026
Posted by Rima Dwi Astuti

Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) meluncurkan sekitar 10 rudal balistik ke Pangkalan Udara Al-Azraq di Yordania pada 9 Juli 2026. Pangkalan yang menjadi lokasi penempatan pasukan militer Amerika Serikat (AS) tersebut menjadi sasaran karena menampung pusat komando, hanggar pesawat, serta fasilitas drone yang digunakan dalam operasi militer AS.

Sistem pertahanan udara Yordania berhasil mencegat antara lima hingga delapan rudal, sehingga serangan yang lebih besar dapat dihindari. Meski demikian, beberapa rudal tetap berhasil menghantam pangkalan dan menyebabkan kerusakan pada sejumlah infrastruktur militer. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Serangan terjadi sekitar pukul 14.20 waktu setempat. Pangkalan Al-Azraq, yang juga dikenal sebagai Prince Hassan Air Base, merupakan salah satu pusat operasi strategis militer AS di kawasan Timur Tengah. Setelah insiden ini, muncul kekhawatiran bahwa pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain juga dapat menjadi target jika ketegangan di kawasan terus meningkat.

Serangan tersebut menjadi aksi paling langsung IRGC terhadap instalasi militer yang terkait dengan AS sejak Januari 2020. Saat itu, Iran meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al-Asad di Irak sebagai balasan atas tewasnya Jenderal Iran Qasem Soleimani dalam serangan AS. Insiden tersebut menyebabkan lebih dari 100 personel militer AS mengalami luka-luka.

Pasar Kripto Tetap Bertahan

Serangan militer ini sempat mengguncang pasar kripto. Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$63.000 setelah insiden tersebut, sementara pasar kripto secara keseluruhan mencatat likuidasi lebih dari US$1 miliar.

Likuidasi terjadi ketika trader yang menggunakan dana pinjaman (leverage) dipaksa menutup posisinya akibat pergerakan harga yang berlawanan dengan prediksi mereka. Dalam kasus ini, banyak trader yang bertaruh harga kripto akan naik harus mengalami penjualan paksa setelah muncul kabar mengenai serangan rudal. Meski demikian, pasar kripto mampu kembali stabil dan tidak mengalami penurunan yang lebih dalam.

AS Perketat Tekanan terhadap Sektor Kripto Iran

Secara terpisah, pada 2 Juni 2026, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap Nobitex, bursa kripto terbesar di Iran. Langkah tersebut bertujuan membatasi kemampuan Iran memanfaatkan aset digital untuk menghindari sanksi keuangan internasional.

Menurut pemerintah AS, Nobitex berperan penting dalam membantu pergerakan dana di luar sistem perbankan tradisional, terutama melalui penggunaan stablecoin, yaitu aset kripto yang nilainya dipatok pada mata uang fiat seperti dolar AS.

Penerapan sanksi ini juga menjadi sinyal bagi industri kripto global. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah AS bersedia mengambil tindakan terhadap bursa kripto besar yang beroperasi di yurisdiksi dengan risiko sanksi tinggi. Kondisi ini diperkirakan akan mendorong bursa kripto di berbagai negara untuk semakin memperkuat kepatuhan terhadap regulasi internasional.

Supported by
DepoCrypto.com © 2023