Studi Stanford Ungkap Dugaan Manipulasi Pasar Bitcoin di Polymarket

Berita Crypto , Friday, 17 July 2026
Posted by Rima Dwi Astuti

Studi Stanford Ungkap Dugaan Manipulasi Pasar Bitcoin di Polymarket

Sebuah studi terbaru dari Stanford University dan Singapore Management University mengungkap bahwa pasar prediksi Bitcoin berdurasi lima menit di Polymarket diduga memberikan keuntungan yang tidak adil bagi trader berpengalaman. Setelah menganalisis hampir 16.000 kontrak prediksi Bitcoin selama dua bulan, para peneliti menemukan pola perdagangan yang mengindikasikan adanya upaya manipulasi harga Bitcoin sesaat sebelum kontrak diselesaikan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar diduga mampu menggerakkan harga spot Bitcoin dalam waktu singkat untuk memperoleh keuntungan dari kontrak prediksi.

Bagaimana Dugaan Manipulasi Terjadi

Kontrak prediksi lima menit di Polymarket memungkinkan pengguna bertaruh apakah harga Bitcoin (BTC) akan berada di atas atau di bawah level tertentu saat kontrak berakhir. Hasil kontrak ditentukan berdasarkan satu price feed Chainlink pada satu waktu tertentu.

Menurut penelitian, trader yang memiliki posisi besar diduga melakukan transaksi dalam jumlah besar beberapa detik sebelum penyelesaian kontrak. Aksi ini berpotensi mendorong harga spot Bitcoin bergerak ke arah yang menguntungkan posisi mereka.

Studi tersebut mengidentifikasi 821 pihak yang diduga terlibat dalam praktik tersebut. Mereka diperkirakan memperoleh keuntungan sekitar US$8,2 juta selama periode penelitian. Selain itu, sekitar US$1,28 juta diperkirakan berpindah dari trader biasa kepada kelompok tersebut akibat dugaan manipulasi tersebut.

Para peneliti juga menemukan bahwa volume perdagangan Bitcoin di Binance melonjak hingga 3,9 kali lipat dari kondisi normal selama periode penyelesaian kontrak. Menariknya, harga Bitcoin kerap kembali ke level sebelumnya hanya beberapa detik setelah kontrak berakhir.

Meski begitu, para peneliti menegaskan mereka tidak memiliki bukti langsung bahwa akun Binance dan dompet Polymarket dimiliki oleh pihak yang sama. Karena itu, bukti yang ada masih bersifat tidak langsung (circumstantial evidence).

Solusi yang Diusulkan

Penelitian tersebut menemukan bahwa potensi manipulasi berkurang secara signifikan ketika durasi kontrak diperpanjang dari lima menit menjadi 15 menit.

Selain itu, peneliti merekomendasikan penggunaan metode Time-Weighted Average Price (TWAP) sebagai dasar penyelesaian kontrak, menggantikan penggunaan satu harga pada satu titik waktu. Dengan metode ini, pelaku pasar akan lebih sulit memengaruhi hasil kontrak hanya melalui lonjakan harga sesaat.

Menanggapi laporan tersebut, Polymarket menyatakan tidak meyakini telah terjadi manipulasi pasar. Namun, platform itu mengonfirmasi rencana untuk mulai menerapkan mekanisme penyelesaian berbasis harga rata-rata pada beberapa pasar dalam satu tahun ke depan.

Sementara itu, Binance mengatakan pihaknya terus memantau aktivitas perdagangan di platformnya, tetapi tidak memiliki kendali atas mekanisme penyelesaian kontrak yang digunakan oleh platform prediksi pihak ketiga seperti Polymarket.

Dampaknya Tak Hanya bagi Industri Kripto

Para peneliti menilai risiko manipulasi seperti ini tidak hanya terbatas pada pasar kripto. Produk event contracts yang dikembangkan oleh perusahaan seperti Cboe maupun Nasdaq juga berpotensi menghadapi risiko serupa apabila penyelesaian kontraknya hanya mengandalkan satu harga pada satu waktu tertentu.

Temuan ini muncul di tengah pesatnya pertumbuhan pasar prediksi. Berdasarkan data DefiLlama, Kalshi mencatat volume perdagangan sekitar US$9,4 miliar pada Juni, sementara Polymarket International membukukan sekitar US$4,3 miliar.

Piala Dunia FIFA 2026 yang diperluas menjadi salah satu pendorong utama aktivitas tersebut dengan menghasilkan total volume perdagangan lebih dari US$5,4 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar US$4,25 miliar berasal dari Polymarket dan sekitar US$1,2 miliar dari Kalshi.

Para peneliti menilai penerapan model penyelesaian kontrak yang lebih baik dapat membuat pasar prediksi lebih sulit dieksploitasi sekaligus meningkatkan integritas pasar.

Di sisi lain, industri pasar prediksi juga menghadapi pengawasan regulator yang semakin ketat. Sejumlah negara bagian di Amerika Serikat telah menggugat platform seperti Kalshi dan Polymarket, sementara Commodity Futures Trading Commission (CFTC) menyatakan memiliki kewenangan utama dalam mengawasi kontrak berbasis peristiwa yang diatur secara federal. Sengketa tersebut saat ini masih berlangsung di pengadilan federal dan berpotensi berlanjut hingga Mahkamah Agung Amerika Serikat.

Didukung oleh
DepoCrypto.com © 2023