SWIFT Masuk Era Blockchain, 17 Bank Global Siap Uji Coba Pembayaran Lintas Negara 24/7
SWIFT Uji Coba Pembayaran Lintas Negara Berbasis Blockchain, Libatkan 17 Bank Global
SWIFT mengonfirmasi bahwa 17 bank internasional akan berpartisipasi dalam proyek percontohan (pilot) pembayaran lintas negara yang memanfaatkan teknologi blockchain melalui skema tokenized deposits. Inisiatif ini menjadi salah satu langkah terbesar SWIFT dalam mengintegrasikan teknologi aset digital ke dalam infrastruktur pembayaran globalnya, yang saat ini menghubungkan lebih dari 11.000 lembaga keuangan di lebih dari 200 negara dan wilayah.
Dalam uji coba tersebut, bank-bank peserta akan menggunakan tokenized deposits yang berjalan di atas blockchain ledger terbaru milik SWIFT. Teknologi ini memungkinkan transfer dana dilakukan 24 jam sehari, tujuh hari seminggu (24/7), sehingga transaksi lintas negara dapat diselesaikan lebih cepat dibandingkan sistem pembayaran tradisional yang masih bergantung pada jam operasional perbankan dan proses penyelesaian (settlement) yang relatif lebih lama.
Berbeda dengan aset kripto seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH), tokenized deposits merupakan representasi digital dari simpanan nasabah di bank yang tetap berada dalam sistem perbankan dan diawasi oleh regulator. Artinya, dana yang ditokenisasi tetap didukung oleh simpanan riil di bank, sehingga mampu menghadirkan efisiensi teknologi blockchain tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kepatuhan terhadap regulasi keuangan.
Sebanyak 17 bank yang mengikuti proyek ini meliputi:
- ANZ
- BNP Paribas
- BNY
- Citi
- DBS
- First Abu Dhabi Bank (FAB)
- FirstRand Bank Limited
- HSBC
- Itaú Unibanco
- Lloyds Bank
- Mashreq
- MUFG Bank
- OCBC
- Standard Chartered
- UBS
- UOB
- Wells Fargo
Partisipasi bank-bank besar dari Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, hingga Asia menunjukkan semakin tingginya minat institusi keuangan terhadap teknologi tokenisasi. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai bank global mulai mengembangkan solusi berbasis blockchain untuk meningkatkan efisiensi pembayaran lintas negara, perdagangan aset digital, hingga proses penyelesaian transaksi.
SWIFT juga terus mengembangkan berbagai solusi yang menjembatani sistem keuangan tradisional dengan ekosistem aset digital. Sebelumnya, organisasi tersebut telah melakukan sejumlah uji coba terkait interoperabilitas antarjaringan blockchain, tokenisasi aset dunia nyata (real-world assets/RWA), serta integrasi dengan mata uang digital bank sentral (Central Bank Digital Currency/CBDC).
Melalui proyek terbaru ini, SWIFT ingin membangun infrastruktur yang memungkinkan berbagai jenis aset digital—termasuk tokenized deposits, stablecoin yang memenuhi regulasi, maupun CBDC—dapat berinteraksi secara mulus dengan sistem pembayaran global tanpa mengharuskan bank membangun jaringan baru dari awal. Pendekatan ini diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi blockchain di sektor perbankan sekaligus tetap kompatibel dengan jaringan SWIFT yang telah digunakan selama puluhan tahun.
Para analis menilai bahwa tokenized deposits menawarkan sejumlah keunggulan dibandingkan metode pembayaran konvensional. Selain mempercepat proses settlement, teknologi ini juga berpotensi menekan biaya transaksi, meningkatkan transparansi, mengurangi risiko kegagalan penyelesaian transaksi, serta mendukung pembayaran lintas negara secara real-time. Kemampuan tersebut menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan transaksi global yang berlangsung di luar jam operasional perbankan.
Lebih luas lagi, inisiatif ini mencerminkan perubahan pandangan institusi keuangan besar terhadap teknologi blockchain. Jika sebelumnya blockchain lebih identik dengan aset kripto, kini teknologi tersebut semakin banyak dimanfaatkan untuk memodernisasi infrastruktur keuangan tanpa harus bergantung pada mata uang kripto yang memiliki volatilitas tinggi.
Meski demikian, proyek ini masih berada pada tahap pilot, sehingga keberhasilannya akan bergantung pada hasil evaluasi terkait aspek teknis, keamanan siber, interoperabilitas, serta kepatuhan terhadap regulasi di berbagai yurisdiksi. Apabila uji coba ini berhasil, teknologi tersebut berpotensi menjadi fondasi bagi sistem pembayaran global generasi berikutnya yang lebih cepat, efisien, beroperasi 24/7, serta mendorong adopsi infrastruktur aset digital di sektor keuangan tradisional.