Temasek Tinggalkan Kripto, Targetkan 15% Portofolio untuk Investasi AI

Berita Crypto , Friday, 10 July 2026
Posted by Rima Dwi Astuti

Temasek Tinggalkan Investasi Kripto Langsung, Targetkan AI Kuasai 15% Portofolio

Temasek Holdings, perusahaan investasi milik pemerintah Singapura, menegaskan tidak memiliki investasi langsung di aset kripto. Keputusan tersebut diambil di tengah ketidakpastian regulasi serta dampak dari kerugian sebesar US$275 juta akibat runtuhnya bursa kripto FTX pada 2022.

Perusahaan yang mengelola aset senilai S$518 miliar atau sekitar US$400 miliar itu kini mengalihkan fokus investasinya ke sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Temasek menargetkan investasi terkait AI mencapai 15% dari total portofolio pada 2031, meningkat dari sekitar 6% pada kuartal I 2026.

Presiden Temasek Global Investments, Nagi Hamiyeh, mengatakan saat ini Temasek tidak memiliki eksposur langsung terhadap aset kripto. Namun, ia tidak menutup kemungkinan posisi tersebut dapat berubah di masa depan, bergantung pada perkembangan regulasi dan peran kripto dalam sistem keuangan global.

Bayang-Bayang Keruntuhan FTX

Kebangkrutan FTX menjadi salah satu alasan utama Temasek mengambil sikap lebih berhati-hati terhadap aset digital. Peristiwa tersebut juga mendorong Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) memperketat pengawasan terhadap perusahaan kripto.

Regulasi yang lebih ketat meningkatkan biaya kepatuhan dan memperpanjang proses perizinan bagi pelaku industri aset digital. Kondisi ini membuat Singapura menjadi lingkungan yang lebih menantang bagi bisnis kripto dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Tetap Optimistis terhadap Blockchain

Meski menghindari investasi langsung pada mata uang kripto, Temasek menegaskan tetap percaya pada potensi teknologi blockchain.

Menurut Hamiyeh, blockchain masih memiliki peluang besar untuk mendukung transformasi ekonomi nyata. Temasek membedakan investasi pada token kripto yang cenderung bersifat spekulatif dengan pengembangan infrastruktur blockchain yang dapat dimanfaatkan oleh perusahaan, lembaga keuangan, hingga aplikasi berbasis AI di masa depan.

AI Jadi Prioritas Jangka Panjang

Temasek menilai siklus pertumbuhan industri AI masih berada pada tahap awal dan diperkirakan akan terus berkembang selama beberapa dekade ke depan.

Meski demikian, Hamiyeh mengingatkan bahwa valuasi sejumlah perusahaan AI saat ini sudah cukup tinggi sehingga investor tetap perlu memperhatikan fundamental bisnis sebelum berinvestasi.

Sinyal bagi Industri Kripto

Sikap Temasek mencerminkan bahwa banyak investor institusi besar masih berhati-hati terhadap investasi kripto, meski kondisi pasar mulai pulih. Sejumlah sovereign wealth fund dan investor jangka panjang lainnya juga masih memilih tidak memiliki eksposur langsung terhadap aset kripto, sambil tetap mengakui potensi teknologi blockchain.

Di sisi lain, kepastian regulasi global mulai meningkat. Uni Eropa telah menerapkan regulasi Markets in Crypto-Assets (MiCA), Amerika Serikat tengah membahas CLARITY Act, sementara Singapura terus memperbarui kerangka regulasi layanan pembayaran digital.

Meski begitu, masih belum dapat dipastikan apakah perkembangan regulasi tersebut akan mendorong Temasek kembali mempertimbangkan investasi langsung di aset kripto pada masa mendatang.

Sementara itu, nilai portofolio Temasek terus bertumbuh. Dalam laporan terbaru, perusahaan mencatat nilai portofolio mencapai S$518 miliar, naik S$49 miliar dibanding tahun sebelumnya, dengan investasi di sektor AI menjadi salah satu kontributor utama pertumbuhan tersebut.

Supported by
DepoCrypto.com © 2023