Pertumbuhan Pesat Stablecoin Jadi Ujian Baru bagi Kebijakan The Fed Kevin Warsh

Berita Crypto , Friday, 26 June 2026
Posted by Rima Dwi Astuti

Stablecoin Masuk ke Agenda Kebijakan Dolar The Fed

Stablecoin kini tidak lagi hanya dipandang sebagai alat transaksi di pasar kripto. Aset digital ini mulai menjadi bagian dari pembahasan Federal Reserve (The Fed) mengenai masa depan dolar AS dalam sistem keuangan global.

Dalam Conference on the International Roles of the Dollar yang digelar pada 22-23 Juni, Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan bahwa aset digital, termasuk stablecoin, perlu dikaji sebagai bagian dari penelitian mengenai peran dolar AS di tingkat internasional.

Meski tidak mengumumkan kebijakan baru terkait stablecoin, pernyataan Waller menunjukkan bahwa The Fed mulai melihat stablecoin sebagai bagian penting dari sistem keuangan, bukan sekadar produk di industri kripto.

Stablecoin Jadi Bagian dari Sistem Dolar

Stablecoin yang dipatok terhadap dolar AS masih banyak digunakan sebagai alat perdagangan dan pembayaran di ekosistem kripto. Namun kini, The Fed juga menilai stablecoin dapat memengaruhi pendanaan berbasis dolar, pembayaran lintas negara, likuiditas, hingga permintaan terhadap surat utang pemerintah AS.

Berbeda dengan simpanan di bank, stablecoin memungkinkan pengguna di berbagai negara menyimpan dan mentransfer dolar digital melalui jaringan blockchain tanpa harus bergantung langsung pada sistem perbankan.

Seiring meningkatnya adopsi stablecoin, regulator mulai mempertanyakan apakah penerbit stablecoin dapat menjadi salah satu jalur utama masuknya permintaan global terhadap dolar AS ke sistem perbankan dan pasar obligasi pemerintah.

Pertumbuhan Stablecoin Makin Menarik Perhatian

Pesatnya pertumbuhan stablecoin menjadi salah satu alasan utama meningkatnya perhatian regulator.

Per 25 Juni, pasokan USDT milik Tether telah mencapai hampir US$186 miliar, sementara USDC milik Circle beredar sekitar US$74 miliar, menjadikannya dua aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar.

USDT juga mencatat volume perdagangan harian sekitar US$81 miliar, hampir dua kali lipat dibandingkan volume perdagangan Bitcoin yang berada di kisaran US$43 miliar pada periode yang sama.

Meski nilainya masih jauh lebih kecil dibandingkan keseluruhan pasar obligasi pemerintah AS, ukuran pasar stablecoin kini sudah cukup besar sehingga bank sentral mulai mengkaji asal cadangan asetnya, mekanisme penukaran (redemption), hingga potensi dampaknya terhadap pasar keuangan jika terjadi arus masuk maupun keluar dana dalam jumlah besar.

Pengelolaan Cadangan Jadi Sorotan

Circle menyatakan bahwa USDC didukung oleh kas dan aset setara kas yang sangat likuid. Sebagian besar cadangannya ditempatkan di Circle Reserve Fund yang dikelola oleh BlackRock.

Karena dana cadangan tersebut diinvestasikan pada instrumen seperti Treasury Bills, pasar repo, dan simpanan bank, perubahan permintaan terhadap stablecoin juga dapat memengaruhi permintaan terhadap aset-aset keuangan tradisional tersebut.

Dengan demikian, stablecoin kini tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran, tetapi juga mulai berperan dalam pengelolaan likuiditas berbasis dolar AS.

Dampaknya terhadap Perbankan

Peneliti The Fed juga mulai mengkaji bagaimana pertumbuhan stablecoin dapat memengaruhi sektor perbankan.

Dampaknya tidak selalu berarti mengurangi simpanan di bank. Pengaruhnya bergantung pada siapa yang menggunakan stablecoin, dari mana permintaannya berasal, serta bagaimana penerbit mengelola dana cadangannya.

Sebagai contoh, jika masyarakat AS memindahkan dana dari rekening bank ke stablecoin, perbankan dapat kehilangan sebagian sumber pendanaannya. Namun jika permintaan berasal dari investor luar negeri yang ingin memiliki dolar digital, dampaknya terhadap bank domestik bisa berbeda.

Di sisi lain, industri perbankan juga mulai beradaptasi. Awal Juni lalu, The Clearing House mengumumkan bahwa sejumlah institusi keuangan besar tengah mengembangkan sistem tokenisasi deposito bank berbasis blockchain yang terhubung dengan jaringan pembayaran RTP dan CHIPS.

Inisiatif tersebut bertujuan menghadirkan sistem pembayaran digital yang lebih modern tanpa mengeluarkan dana dari sistem perbankan yang telah diatur regulator.

Pengaruh terhadap Pasar Obligasi AS

Peneliti juga mulai mengamati dampak stablecoin terhadap permintaan surat utang pemerintah AS, khususnya Treasury Bills berjangka pendek.

Makalah terbaru dari Bank for International Settlements (BIS) menunjukkan bahwa arus masuk dana ke stablecoin berbasis dolar dapat menekan imbal hasil (yield) Treasury Bills, terutama ketika pasar sedang mengalami tekanan.

Sementara itu, Treasury Borrowing Advisory Committee mencatat bahwa penerbit stablecoin saat ini masih memegang kurang dari 1% dari total obligasi pemerintah AS yang beredar.

Namun, jika adopsi stablecoin terus meningkat, terutama dari pengguna internasional, penerbit stablecoin berpotensi menjadi pembeli Treasury Bills dalam jumlah yang jauh lebih besar di masa depan.

Menjadi Tantangan Baru bagi Kebijakan The Fed

Hingga saat ini, The Fed belum menentukan apakah stablecoin akan tetap menjadi produk keuangan swasta atau berkembang menjadi bagian dari infrastruktur dolar AS yang diatur lebih ketat.

Untuk sementara, regulator akan terus memantau apakah pertumbuhan stablecoin didorong oleh meningkatnya permintaan dolar digital dari luar negeri atau oleh perpindahan dana masyarakat dari sistem perbankan tradisional.

Penerbit stablecoin juga dituntut membuktikan bahwa mereka mampu mengelola cadangan aset dan memenuhi permintaan penukaran dalam jumlah besar ketika kondisi pasar bergejolak.

Diskusi terbaru The Fed menunjukkan bahwa stablecoin tidak lagi dipandang hanya sebagai aset penyelesaian transaksi di industri kripto. Seiring pertumbuhan dan integrasinya dengan sistem keuangan global, stablecoin kini semakin dianggap sebagai bagian dari infrastruktur dolar digital yang berpotensi memengaruhi pendanaan bank, pasar obligasi pemerintah AS, dan likuiditas dolar secara keseluruhan.

Supported by
DepoCrypto.com © 2023