Bitcoin Bertahan di Atas Level US$60.000 di Tengah Memanasnya Ketegangan AS-Iran

Bitcoin , Thursday, 09 July 2026
Posted by Rima Dwi Astuti

Bitcoin bertahan di atas US$62.000 setelah kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memperlambat lalu lintas kapal di Selat Hormuz, mendorong harga minyak naik, dan memicu kembali kekhawatiran inflasi di pasar global.

Berdasarkan data CryptoSlate, aset kripto terbesar tersebut diperdagangkan di kisaran US$63.000 pada Kamis (9/7), tetap berada di atas level US$60.000 yang menjadi perhatian para trader sejak aksi jual besar bulan lalu.

Kenaikan ini terjadi meski serangan terbaru AS ke sejumlah target di Iran serta serangan balasan dari Teheran meningkatkan risiko gangguan yang lebih luas terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk Persia.

Harga minyak Brent ditutup melonjak 5,2% menjadi US$78,02 per barel pada Rabu, level penutupan tertinggi sejak 19 Juni, setelah sempat menembus US$80 selama perdagangan. Harga minyak mentah AS juga menguat, sementara pasar saham bergerak beragam dan pasar obligasi kembali mencerminkan kekhawatiran bahwa kenaikan biaya energi dapat membuat inflasi bertahan lebih lama.

Bagi Bitcoin, lonjakan harga minyak datang pada saat yang kurang ideal. Aset kripto tersebut baru mulai stabil setelah mengalami tekanan sepanjang Juni, tetapi belum menunjukkan permintaan yang cukup kuat untuk membuat pemulihannya lebih tahan terhadap guncangan makroekonomi.

Hal ini karena kenaikan harga minyak mentah dapat meningkatkan ekspektasi inflasi, mendorong kenaikan imbal hasil obligasi (yield), serta mengurangi peluang pelonggaran kebijakan moneter. Faktor-faktor tersebut umumnya memberi tekanan pada aset berisiko seperti Bitcoin.

Akibatnya, Bitcoin kini berada di antara dua kekuatan, yaitu dukungan harga di sekitar US$60.000 dan lonjakan harga energi yang berpotensi membuat kebijakan Federal Reserve (The Fed) kembali menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar.

Perlambatan Lalu Lintas Selat Hormuz Kembali Picu Risiko Inflasi

Eskalasi terbaru terjadi setelah AS melancarkan serangan terhadap target di Iran untuk hari kedua berturut-turut. Washington menyatakan langkah tersebut diambil setelah kapal-kapal komersial diserang saat melintasi Selat Hormuz.

Media Iran melaporkan ledakan di wilayah pesisir selatan negara itu dan menyebut serangan juga menghantam pulau-pulau yang dikuasai Iran di kawasan Teluk. Kementerian Kesehatan Iran menyatakan sedikitnya 14 orang tewas dalam dua malam terakhir.

Presiden Donald Trump melalui Truth Social mengatakan serangan AS merupakan balasan atas serangan terhadap kapal-kapal dagang dan memperingatkan bahwa setiap aksi lanjutan dari Iran akan dibalas dengan respons yang lebih keras.

Konflik tersebut segera berdampak pada pasar energi karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) terpenting di dunia.

Menurut Reuters, empat kapal tanker minyak dan LNG memutuskan berbalik arah setelah mencoba melintasi Selat Hormuz, termasuk tiga kapal LNG kosong yang menuju terminal ekspor Ras Laffan di Qatar.

Sementara itu, Bloomberg mengutip data Kpler yang menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz melambat tajam pada Kamis. Hanya satu kapal tanker yang terlihat melintas, didampingi satu kapal kontainer Iran. Tidak ada aktivitas kapal di jalur dekat Oman yang biasanya digunakan untuk menghindari perairan yang dikuasai Iran.

Perlambatan ini berbanding terbalik dengan kondisi sebelumnya. Bloomberg mencatat sebanyak 14 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz pada Rabu, jauh di bawah rata-rata 34 kapal tanker per hari selama tiga pekan setelah gencatan senjata.

Meski jalur tersebut belum ditutup secara resmi, berkurangnya lalu lintas kapal dapat memperketat pasokan energi global. Pemilik kapal berpotensi menghindari rute tersebut, perusahaan asuransi dapat menaikkan premi, dan pembeli mulai mencari sumber pasokan alternatif selama risiko serangan masih tinggi.

Head of Commodity Strategy Saxo Bank, Ole Hansen, mengatakan gangguan tersebut menunjukkan bahwa Selat Hormuz sebenarnya belum sepenuhnya kembali normal setelah gencatan senjata.

“Gangguan ini menjadi pengingat bahwa Selat Hormuz sebenarnya belum sepenuhnya kembali dibuka dan penghapusan premi risiko geopolitik dalam beberapa waktu terakhir mungkin dilakukan terlalu cepat.”

Perlambatan lalu lintas kapal turut mendorong kenaikan harga minyak, menghapus sebagian sentimen positif yang muncul setelah gencatan senjata bulan lalu. Saat itu, harga minyak sempat turun setelah AS dan Iran sepakat menghentikan serangan dan kembali ke meja perundingan.

Namun, konflik terbaru kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah. Selain itu, larangan ekspor diesel dari Rusia juga menambah tekanan terhadap pasar energi global.

Kenaikan harga minyak juga mempersulit prospek suku bunga. Sebelumnya, pelaku pasar memperkirakan inflasi yang lebih rendah dan perlambatan ekonomi akan membuka ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga. Namun, skenario tersebut menjadi lebih sulit jika harga minyak bertahan di sekitar US$80 per barel atau terus naik.

Reuters melaporkan bahwa kenaikan harga Brent kembali memicu kekhawatiran inflasi, mendorong kenaikan imbal hasil obligasi jangka pendek dan meningkatkan ekspektasi bahwa bank-bank sentral utama akan mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Hansen menilai kenaikan harga minyak meningkatkan risiko inflasi bertahan lebih lama, meski pelemahan terbaru pada data ketenagakerjaan AS dapat membuat The Fed tidak terburu-buru menaikkan suku bunga lagi.

Kondisi ini menciptakan lingkungan yang kurang mendukung bagi aset berisiko. Harga energi yang tinggi dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi, menekan daya beli konsumen, serta menyulitkan bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneternya.

Ketahanan Bitcoin di US$62.000 Masih Diuji

Perubahan prospek suku bunga membuat kemampuan Bitcoin bertahan di atas US$62.000 menjadi sorotan. Harga energi yang tetap tinggi berpotensi menjaga kondisi likuiditas tetap ketat, tepat ketika Bitcoin sedang berusaha membangun kembali permintaan.

Pergerakan harga saat ini menunjukkan bahwa tekanan jual belum cukup kuat untuk mendorong penurunan yang lebih dalam setelah pasar mengalami tekanan sepanjang Juni akibat lemahnya permintaan dana investasi, meningkatnya pasokan di bursa, dan likuiditas yang lebih ketat.

Bitcoin tetap mampu bertahan di atas US$60.000 meski harga minyak naik dan pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Analis CryptoQuant menyebut bahwa kenaikan harga minyak Brent di atas rata-rata tahunan secara historis sering bertepatan dengan kondisi yang kurang menguntungkan bagi Bitcoin. Meski hubungan tersebut tidak selalu terjadi, reli harga minyak yang berkepanjangan dapat meningkatkan ekspektasi inflasi, mendorong kenaikan yield obligasi, dan mengalihkan arus modal dari aset berisiko.

Artinya, Bitcoin kembali menghadapi tekanan makro yang sama seperti pada Juni lalu. Meski konflik geopolitik sering dianggap mendukung aset langka, pergerakan Bitcoin selama periode ketidakpastian lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi likuiditas, posisi investor, dan ekspektasi terhadap kebijakan moneter, bukan seperti emas yang kerap menjadi aset safe haven.

Karena itu, perkembangan situasi di Selat Hormuz diperkirakan akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah pasar kripto dalam jangka pendek. Jika lalu lintas kapal kembali normal, premi risiko pada harga minyak kemungkinan akan berkurang, tekanan terhadap yield mereda, dan perhatian investor kembali tertuju pada faktor-faktor fundamental kripto seperti arus dana ETF Bitcoin spot, penggunaan leverage, dan permintaan di pasar spot.

Sebaliknya, jika gangguan berlangsung lebih lama dan harga Brent bertahan di sekitar US$80 per barel atau lebih tinggi, kekhawatiran inflasi diperkirakan tetap mendominasi sentimen pasar, terutama jika pasokan diesel dan LNG tetap ketat.

Kondisi tersebut dapat mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset yang bergantung pada likuiditas longgar, termasuk Bitcoin.

Pada akhirnya, kemampuan Bitcoin bertahan di atas US$62.000 menunjukkan bahwa pasar belum menganggap konflik terbaru sebagai alasan untuk melakukan aksi jual besar-besaran. Namun, level tersebut belum dapat dianggap sebagai titik support yang kuat selama harga minyak tetap tinggi dan gangguan di Selat Hormuz masih berlangsung.

Didukung oleh
DepoCrypto.com © 2023