Bitcoin Menguat 2% Usai Kemajuan RUU CLARITY, Saham Coinbase dan Circle Melonjak
Analis Bloomberg: CLARITY Act Diperkirakan Tak Berdampak Langsung pada Harga Bitcoin
Analis ETF Bloomberg, James Seyffart, berpendapat bahwa CLARITY Act kemungkinan hampir tidak akan memberikan dampak langsung terhadap harga Bitcoin.
Menurutnya, Bitcoin sudah memiliki seluruh infrastruktur yang ingin dibangun oleh RUU tersebut untuk aset kripto lainnya. Bitcoin telah diakui sebagai komoditas, memiliki pasar futures yang diatur, akses ke ETF spot, serta layanan kustodian untuk investor institusional.
Pernyataan tersebut muncul di tengah perdebatan mengenai sejauh mana CLARITY Act akan mengubah industri kripto dan aspek apa saja yang tetap tidak terpengaruh.
Pada 22 Juli, Partai Republik di Senat AS merilis pembaruan naskah CLARITY Act. RUU tersebut mencakup aturan mengenai imbal hasil stablecoin, pengecualian penggalangan dana di bawah pengawasan SEC, klasifikasi DeFi, aturan anti pencucian uang (AML), serta pembagian kewenangan antara regulator. Namun, RUU ini masih membutuhkan sedikitnya delapan suara dari senator Demokrat agar dapat lolos di Senat sebelum masa reses Agustus.
Sementara itu, kubu Demokrat di Komite Perbankan Senat telah menyampaikan keberatan. Kantor Senator Elizabeth Warren menilai ketentuan mengenai etika dalam RUU tersebut masih belum memadai, terutama terkait mekanisme penegakan hukum oleh Departemen Kehakiman AS serta pembatasan kewenangan jaksa agung di tingkat negara bagian.
Sebagai informasi, SEC telah menyetujui ETF spot Bitcoin pada Januari 2024. Di sisi lain, Commodity Futures Trading Commission (CFTC) telah lama mengklasifikasikan Bitcoin sebagai komoditas berdasarkan Commodity Exchange Act. Selain itu, pasar futures Bitcoin yang teregulasi dan layanan kustodian institusional juga telah beroperasi selama bertahun-tahun.
Karena itulah, Seyffart menilai Ethereum, Solana, dan berbagai aplikasi yang dibangun di atas jaringan tersebut memiliki potensi memperoleh manfaat yang jauh lebih besar dari CLARITY Act. Regulasi ini dapat memberikan kepastian hukum yang selama ini masih belum dimiliki oleh jaringan blockchain tersebut.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Arthur Hayes dalam ajang Consensus Miami. Ia menilai pergerakan harga Bitcoin lebih dipengaruhi oleh likuiditas mata uang fiat dibandingkan perubahan regulasi. Hayes juga mengatakan bahwa nilai Bitcoin justru berasal dari posisinya yang berada di luar sistem regulasi formal yang ingin dibangun melalui CLARITY Act.
Analisis Grayscale juga mendukung pandangan tersebut. Perusahaan manajemen aset itu menyebut Ethereum, Solana, BNB Chain, dan Canton Network sebagai blockchain yang paling berpotensi memperoleh manfaat dari regulasi yang lebih jelas, terutama dalam pengembangan tokenisasi aset, staking, dan aktivitas on-chain.
Pembaruan CLARITY Act pada 22 Juli juga memuat aturan mengenai imbal hasil stablecoin, pengecualian penggalangan dana bagi penerbit token di bawah SEC, klasifikasi DeFi, kewajiban anti pencucian uang bagi bursa dan broker aset digital, serta ketentuan mengenai tokenisasi aset.
Saat ini, jaringan Ethereum menampung sekitar US$149,7 miliar dari total pasar stablecoin yang bernilai sekitar US$310 miliar. Sementara itu, Solana memiliki sekitar US$15,3 miliar, sedangkan stablecoin USDC milik Circle memiliki kapitalisasi sekitar US$73,3 miliar.
Besarnya nilai tersebut menjelaskan mengapa Coinbase dan Circle menjadi dua perusahaan yang paling berkaitan langsung dengan aturan dalam CLARITY Act.
Dampak Tidak Langsung bagi Bitcoin
Meski diperkirakan tidak memberikan dampak langsung, CLARITY Act tetap berpotensi memengaruhi Bitcoin secara tidak langsung.
Citi sebelumnya memangkas target harga Bitcoin dalam 12 bulan dari US$143.000 menjadi US$112.000 pada Maret karena proses legislasi yang berjalan lebih lambat dan proyeksi arus masuk ETF yang melemah. Pada Juli, Citi kembali memangkas target tersebut menjadi US$82.000, sekaligus menurunkan proyeksi arus masuk ETF Bitcoin dari US$10 miliar menjadi nol dalam satu tahun ke depan.
Menurut Citi, kepastian regulasi dapat meningkatkan permintaan terhadap ETF Bitcoin, memperluas distribusi produk investasi melalui bank dan perusahaan manajemen kekayaan, serta menurunkan premi risiko yang diberikan investor terhadap seluruh kelas aset kripto.
Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan, berpendapat bahwa CLARITY Act akan mengubah iklim regulasi yang saat ini menguntungkan menjadi landasan hukum yang lebih permanen. Kepastian tersebut dinilai penting bagi investor institusional ketika menentukan alokasi investasi mereka di Bitcoin maupun aset kripto lainnya.
Coinbase Institutional Research juga menyampaikan pandangan serupa. Menurut perusahaan tersebut, regulasi yang lebih jelas akan menjadi pendorong utama integrasi yang lebih dalam antara industri kripto dan sistem keuangan tradisional. Namun, karena Coinbase juga akan memperoleh manfaat langsung dari regulasi tersebut, pandangan itu tetap perlu dipertimbangkan dengan melihat potensi kepentingan bisnis perusahaan.
Respons Pasar dan Dua Skenario
Pada 21 Juli, saham Coinbase naik 9,6%, sementara saham Circle menguat 8,6% setelah muncul perkembangan positif dalam negosiasi CLARITY Act. Di hari yang sama, harga Bitcoin juga naik sekitar 2% dan ditutup di kisaran US$66.417.
Perbedaan kenaikan tersebut menunjukkan bahwa pasar menilai manfaat langsung CLARITY Act lebih besar bagi Coinbase dan Circle dibandingkan Bitcoin, meskipun satu hari perdagangan saja belum cukup untuk menjadi kesimpulan akhir.
Apabila CLARITY Act berhasil disahkan dengan dukungan bipartisan, aturan mengenai bursa kripto, DeFi, stablecoin, penggalangan dana, dan tokenisasi diperkirakan tetap akan dipertahankan. Dalam skenario ini, Coinbase, Circle, Ethereum, dan Solana diperkirakan menjadi pihak yang paling diuntungkan.
Bitcoin juga berpotensi memperoleh manfaat melalui meningkatnya arus masuk ETF dan bertambahnya alokasi investasi dari institusi, meskipun protokol Bitcoin sendiri tidak mengalami perubahan akibat regulasi tersebut.
Sebaliknya, jika RUU gagal lolos sebelum masa reses Agustus karena tidak memperoleh dukungan delapan senator Demokrat atau kembali tertunda akibat perdebatan mengenai etika dan penegakan hukum, aset yang paling bergantung pada kepastian regulasi seperti Coinbase, Circle, proyek DeFi, dan altcoin diperkirakan akan menghadapi tekanan lebih besar.
Sejumlah analis bahkan menilai bahwa jika CLARITY Act gagal disahkan, investor kemungkinan akan lebih memilih meningkatkan eksposur ke Bitcoin serta perusahaan infrastruktur kripto yang memiliki fundamental kuat. Hal itu karena Bitcoin merupakan aset kripto yang paling sedikit bergantung pada perubahan regulasi, sementara arah pergerakan harganya tetap lebih dipengaruhi oleh kondisi likuiditas global dan faktor makroekonomi.
Pada akhirnya, pasar akan melihat apakah investor membeli Bitcoin karena benar-benar percaya CLARITY Act menjadi katalis bagi aset tersebut, atau hanya menjadikan Bitcoin sebagai aset paling likuid untuk memperoleh eksposur terhadap sentimen positif yang sebenarnya lebih menguntungkan Coinbase, Circle, Ethereum, dan Solana.