Proposal Protocol Fee Baru Uniswap Berpotensi Memicu Burn Token UNI dalam Jumlah Besar
Uniswap Resmi Ajukan Proposal Protocol Fee, Burn Token UNI Berpotensi Meningkat Signifikan
Uniswap secara resmi mengajukan tiga proposal governance untuk mengaktifkan protocol fee di sejumlah blockchain dan berbagai versi decentralized exchange (DEX) miliknya.
Proposal pertama mencakup aktivasi protocol fee untuk Uniswap V2 dan V3 di jaringan Robinhood. Jaringan Layer-2 Ethereum tersebut baru diluncurkan bulan ini dan telah menarik sejumlah DEX, termasuk Uniswap. Sekitar 10 hari setelah peluncurannya, volume perdagangan Uniswap di jaringan Robinhood telah melampaui US$1 miliar, menandakan adopsi yang terus meningkat.
Selain itu, Uniswap juga mengusulkan aktivasi protocol fee untuk Uniswap V4 di jaringan Ethereum, Base, Arbitrum, Robinhood, BNB Chain, Polygon, dan Optimism. CEO Uniswap, Hayden Adams, mengatakan proposal ketiga untuk mengaktifkan protocol fee di jaringan V4 lainnya juga akan segera diajukan.
Menurut Adams, seluruh pendapatan baru dari protocol fee akan langsung dialokasikan ke mekanisme burn token UNI yang telah ada. Berdasarkan volume transaksi saat ini, terutama di jaringan Robinhood, ia memperkirakan dampaknya terhadap burn token UNI akan sangat besar.
Proposal Menuai Beragam Tanggapan
Sebagai informasi, swap fee merupakan biaya yang dibayarkan pengguna setiap kali melakukan pertukaran aset di Uniswap. Sebagian besar biaya tersebut selama ini diberikan kepada liquidity provider (LP) sebagai imbalan atas likuiditas yang mereka sediakan.
Sementara itu, protocol fee adalah persentase dari swap fee yang menjadi pendapatan protokol setelah disetujui melalui voting governance. Sebagian pendapatan tersebut kemudian digunakan untuk mendukung mekanisme burn token UNI.
Artinya, jika protocol fee diaktifkan, porsi biaya yang diterima liquidity provider akan berkurang. Karena itu, sejumlah penyedia likuiditas, termasuk Gamma Strategies, menyatakan penolakan terhadap proposal untuk Uniswap V4.
Gamma Strategies berpendapat bahwa Uniswap V4 masih tertinggal dari Uniswap V3 dari sisi volume perdagangan. Selain itu, persaingan dengan berbagai automated market maker (AMM), propAMM, RFQ, hingga DEX berbasis order book seperti Lighter dan Hyperliquid juga semakin ketat. Menurut mereka, penerapan protocol fee saat ini dapat mengurangi daya saing Uniswap V4.
Burn UNI Berpotensi Meningkat
Saat ini, protocol fee baru diaktifkan pada sebagian kecil jaringan dan versi Uniswap. Sebagian besar biaya transaksi masih mengalir kepada liquidity provider.
Sejak 2018, para liquidity provider telah memperoleh lebih dari US$5 miliar dalam bentuk biaya transaksi. Sebaliknya, total pendapatan protokol baru mencapai sekitar US$25 juta.
Apabila proposal tersebut disetujui dan tetap mampu menjaga daya saing Uniswap, peningkatan pendapatan protokol diperkirakan akan mendorong laju burn token UNI, seperti yang diproyeksikan Hayden Adams.
Hingga saat ini, Uniswap telah membakar sekitar 107,49 juta token UNI. Bahkan, nilai burn token UNI meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam sepekan, dari sekitar US$51.000 menjadi lebih dari US$160.000.
Bisakah Reli UNI Berlanjut?
Momentum dari peluncuran jaringan Robinhood turut mendorong kenaikan harga token UNI. Sepanjang Juli, harga UNI melonjak sekitar 41%, dari US$2,70 menjadi US$3,80.
Namun, momentum bullish mulai melemah setelah harga tertahan di bawah 200-day Moving Average (MA), yang masih menjadi level resistance penting.
Jika momentum dari jaringan Robinhood mulai mereda, harga UNI diperkirakan bergerak sideways di atas US$3,50 atau berpotensi terkoreksi menuju area US$3,00.